Langkah Braden terbukti sangat sukses, hingga ia mampu meraup pendapatan lebih dari 14.000 dolar AS (Rp247 juta) per tahun. Keberhasilan ini akhirnya menyadarkan para pengelola bioskop akan besarnya potensi keuntungan dari penjualan makanan.
Mereka mulai memproduksi popcorn sendiri, mengusir penjual popcorn, dan merenovasi gedung agar memiliki ventilasi yang layak untuk mengoperasikan mesin popcorn.
Pada tahun 1938, seorang manajer bioskop bernama R.J. McKenna bahkan sengaja menurunkan harga tiket untuk menarik penonton agar membeli popcorn, di mana strategi tersebut memberinya keuntungan lebih dari 200.000 dolar AS (Rp3,6 miliar).
Fenomena itu berlanjut sampai sekarang. Tingginya penggemar popcorn juga tercermin dari data yang menunjukkan bahwa 88% penonton rutin memesan popcorn setiap kali mereka menonton film.
Kini, popcorn sulit dipisahkan dari aktivitas menonton film. Di Amerika Serikat, popcorn bahkan disebut menyumbang sekitar 60% dari penjualan makanan dan minuman di bioskop. Di Indonesia, popcorn juga populer sebagai camilan wajib di setiap bioskop meski harganya lebih mahal dari tiket film.