Situasi semakin berbahaya setelah sejumlah mahasiswa ditangkap karena membaca dan mengedarkan buku terlarang bagi rezim saat itu.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap gerakan mereka, Laut dan kawan-kawannya tetap berusaha memperjuangkan cita-cita untuk mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis.
Namun, perjuangan tersebut membawa konsekuensi besar. Saat akan mendeklarasikan Partai Winatra, mereka malah dijadikan kambing hitam atas kerusuhan yang terjadi di sebuah mimbar bebas di kawasan Jakarta.
Laut bersama sejumlah anggota Winatra menghilang tanpa kabar setelah diburu aparat. Kepergian mereka menyisakan ketidakpastian bagi keluarga, kekasih, dan sahabat yang tidak mengetahui nasib mereka.