NADIKABAR.COM — Menjaga keberlanjutan Sungai Citarum perlu dimulai dari kawasan hulunya. Semangat tersebut menjadi landasan pelaksanaan ESG Now Ground Talk dan Bebersih Leuweung 2026 yang mendorong kolaborasi untuk menjaga ekosistem sungai secara berkelanjutan.
Kegiatan ini digelar di kawasan Situ Cisanti, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/9). Kedua kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian ESG Now Movement 2026 yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat aksi nyata bagi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Mengusung tema 'Citarum Harum: Kolaborasi Membangun Ekosistem Sungai Berkelanjutan', ESG Now Ground Talk menjadi wadah dialog yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas lingkungan, dan akademisi.
Diskusi tersebut diarahkan untuk membangun perspektif bersama mengenai kondisi dan masa depan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Selain itu, juga untuk memperkuat komitmen menjaga kawasan hulu sebagai fondasi keberlanjutan ekosistem sungai.
"Bagi saya jujur bangun jalan mudah, bangun sekolah mudah. Tapi yang paling berat bagi diri saya adalah menghijaukan gunung dan hutan. Saya memimpin Jawa Barat dalam 5 tahun ini, enggak akan ada arti kalau tidak bisa menghijaukan Provinsi Jawa Barat," ucap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).
Selain Dedi Mulyadi, kegiatan ini turut dihadiri oleh Dansatgas Citarum Harum, Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto, sebagai salah satu pembicara, dengan Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, sebagai moderator.
"Republika ingin mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama merawat kawasan hulu, menjaga kebersihan hutan, dan membangun kesadaran bahwa menjaga sungai pada akhirnya adalah menjaga kehidupan," ujar Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin.
Kawasan tersebut dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki posisi strategis dalam ekosistem Citarum. Kawasan ini berada di wilayah hulu Citarum, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, kawasan kaki Gunung Wayang. Karena itu, upaya menjaga kelestarian Citarum tidak terlepas dari perlindungan kawasan hulu, mata air, hutan, serta masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Upaya tersebut memerlukan proses yang dilakukan secara berkelanjutan. Artha Graha Peduli (AGP), sebagai salah satu pihak yang mendukung kegiatan ini, telah terlibat dalam program Citarum Harum sejak 3 Desember 2017. Keterlibatan tersebut dimulai dari kawasan hulu, khususnya di sekitar Situ Cisanti dan kaki Gunung Wayang.
Sejak awal, pendekatan AGP tidak hanya berfokus pada penanaman pohon dan kebersihan sungai, tetapi juga mencakup pemulihan lingkungan serta pelibatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan meliputi edukasi lingkungan, pembibitan dan penanaman pohon, pemeliharaan serta rehabilitasi lahan, hingga pemberdayaan masyarakat dan kelompok tani. Selain itu, pengembangan tanaman keras, pola multikomoditas, dan budidaya kopi turut dilakukan untuk menghubungkan upaya konservasi dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut bermula dari pemahaman bahwa menjaga Citarum bukan semata-mata menjaga aliran sungainya. DAS Citarum membentang dari kawasan Gunung Wayang hingga Muara Gembong dan memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat, antara lain untuk kebutuhan air, pertanian, pembangkit listrik, serta berbagai aktivitas ekonomi.
Karena itu, menjaga kawasan hulu menjadi bagian penting dari keberlanjutan Citarum. Menjaga sumber air berarti menjaga aliran sungai, sedangkan menjaga lingkungan di sekitarnya berarti menjaga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Ground Talk juga menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman bahwa pemulihan dan pelestarian Citarum membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) dapat menjadi kerangka kolaborasi yang mempertemukan kepentingan lingkungan dengan peran pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat.
Setelah forum dialog, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Bebersih Leuweung 2026 yang mengangkat tema 'Dari Hulu Menjaga Citarum: Merawat Leuweung, Menjaga Kehidupan'. Kegiatan ini merupakan inisiatif konservasi dan aksi kebersihan lingkungan yang digagas Republika bersama komunitas lokal, pencinta alam, serta berbagai institusi.
Bebersih Leuweung, yang dalam bahasa Sunda berarti membersihkan hutan, menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan hutan dan kelestarian lingkungan.
Dalam kegiatan ini, para relawan mengumpulkan sampah di sekitar kawasan Situ Cisanti untuk kemudian dipilah berdasarkan jenisnya sebelum dibawa ke fasilitas pengolahan. Sampah tidak langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), sehingga kegiatan tersebut juga mendorong kesadaran akan pentingnya memilah sampah sejak dari sumber.
Kegiatan Bebersih Leuweung telah digelar oleh Republika sejak 2024 melalui kolaborasi dengan berbagai unsur pentahelix. Setelah pertama kali dilaksanakan di Gunung Palasari, Kabupaten Bandung, kegiatan berlanjut ke Gunung Putri Jayagiri, Lembang, pada 2024, dan Gunung Manglayang, Bandung, pada 2025.
Selain menjaga kebersihan kawasan, kegiatan tersebut turut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keberlanjutan lingkungan membutuhkan perubahan perilaku. Sampah yang ditinggalkan di kawasan hutan tidak hanya mengganggu ekosistem, tetapi juga berpotensi terbawa ke aliran air dan menambah persoalan pencemaran di wilayah hilir.
ESG Now Ground Talk dan Bebersih Leuweung 2026 terselenggara berkat kolaborasi Republika dengan Satgas Citarum Harum Kodam III Siliwangi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Acara ini juga disponsori oleh Artha Graha Peduli, Triputra Agro Persada, Danone Indonesia, Bank BJB, Rumah Zakat, PLN UID Jabar, Eiger, Bank BJB Syariah, dan Rumah Wakaf. Kegiatan turut didukung oleh Perhutani, Lica Indonesia, Perum Jasa Tirta II, dan Waste4Change.