NADIKABAR.COM — Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, melakukan pertemuan dengan Wakil Wali Kota Seoul Jeong Sang-hun di Seoul, Korea Selatan, baru-baru ini.

Dalam pertemuan itu, keduanya membahas penguatan kerja sama kedua kota dalam sektor kebudayaan, ekonomi kreatif, pendidikan, ruang publik, dan pembangunan perkotaan.

Singkatnya, lewat pertemuan itu, Jakarta ingin belajar dari Seoul, Seoul pun mengaku ingin belajar dari Jakarta.

Jakarta berada persis di jantung Asia Tenggara dan Seoul berada di Asia Timur. Keduanya bukan ibu kota negara dalam arti administratif yang sama, tetapi keduanya merupakan pusat politik, ekonomi, dan jaringan internasional yang penting.

Jakarta berada di lingkungan ASEAN yang selama beberapa dekade berusaha mempertahankan sentralitasnya di tengah persaingan kekuatan besar.

Sementara itu, Seoul berada di lingkungan yang jauh lebih keras. Kota ini berada di Semenanjung Korea yang memiliki tensi konflik tinggi, terikat aliansi dengan Washington, punya hubungan ekonomi yang dalam dengan Beijing, serta kompetisi strategis yang semakin erat dengan Tokyo.

Dengan demikian, Jakarta dan Seoul berdiri di dua titik berbeda dari satu persoalan yang sama, yakni bagaimana mempertahankan ruang gerak ketika Indo-Pasifik semakin dipenuhi kekuatan besar.

Istilah Indo-Pasifik sendiri bukan sekadar nama baru untuk peta Asia. Ia mencerminkan perubahan cara negara-negara melihat distribusi kekuatan.

Kawasan Indo-Pasifik sekarang ini menampung sekitar 65 persen populasi dunia, sekitar 62 persen produk domestik bruto (PDB) global dan hampir separuh perdagangan internasional.

Bagi Korea Selatan, Indo-Pasifik bukan sekadar kawasan strategis di peta. Sekitar 78 persen ekspor dan 67 persen impornya terkait dengan kawasan tersebut, berdasarkan data 2021 yang digunakan Seoul dalam strategi Indo-Pasifiknya.

Tidak mengherankan jika Korea Selatan menyatakan bahwa kepentingan nasionalnya terkait langsung dengan stabilitas dan kemakmuran Indo-Pasifik.

Di sisi lain, Jakarta tidak berada di bawah ancaman militer seperti yang dirasakan Seoul, tetapi berada di tengah jalur perdagangan dan persaingan strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.

Karena itu, kepentingan Indonesia bukan memilih siapa yang paling kuat, melainkan memastikan agar tidak ada kekuatan yang terlalu dominan, sehingga mempersempit pilihan Indonesia sendiri.

Sejumlah kajian terkait kebijakan Indo-Pasifik Indonesia menunjukkan Jakarta sejauh ini berupaya memperkuat posisinya dengan membangun sebanyak mungkin hubungan dan jaringan, termasuk dengan Seoul.

Korea Selatan memang merupakan sekutu Amerika Serikat, namun hubungan Seoul dengan Washington tidak pernah menghapus kepentingan Korea Selatan untuk mempertahankan hubungan ekonomi dan politik dengan negara-negara lain di Asia.

Strategi Indo-Pasifik Korea Selatan sendiri menyebut ASEAN sebagai salah satu kawasan utama bagi perluasan jaringan kemitraan strategisnya dan menekankan prinsip inklusivitas, bukan pembentukan blok yang secara eksplisit ditujukan kepada satu negara tertentu.

Bagi Indonesia, Korea Selatan juga bukan sekadar negara industri maju yang dapat menjadi sumber investasi dan teknologi. Seoul adalah salah satu middle power penting di Asia. Indonesia pun memiliki karakteristik serupa, meski sumber kekuatannya berbeda.