NADIKABAR.COM β Pemerintah Kota Jakarta Barat menyiapkan dua embung di wilayah Rawa Buaya dan Kembangan sebagai upaya mengurangi risiko banjir dan genangan menjelang musim hujan.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, mengatakan usulan tersebut didasarkan pada pemetaan kawasan yang memiliki potensi banjir cukup tinggi.
βKalau melihat dari peta lokasi potensi banjir yang besar di Jakarta Barat, fungsi terbesarnya ada di Kecamatan Cengkareng, khususnya di Kelurahan Rawa Buaya,β kata Iin kepada wartawan di Jakarta, Selasa.
Iin menilai Rawa Buaya menjadi salah satu wilayah prioritas karena sebagian besar kawasan permukimannya berada di dataran rendah.
βHanya satu RW yang tidak berpotensi karena berada di kawasan rusun, sementara wilayah lainnya posisinya rendah dan memang memerlukan beberapa intervensi,β ujar Iin.
Iin menjelaskan pihaknya memanfaatkan lahan aset pemerintah untuk dijadikan embung sebagai wadah menampung dan meresap air.
Sejumlah lokasi yang berpotensi dikembangkan menjadi embung atau waduk berada di RW 2 Rawa Buaya serta kawasan sekitar TPU Tegal Alur dan Kamal.
βDari sisi kewilayahan, kami mengusulkan agar dibuat kolam yang bisa menjadi tempat resapan air. Ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi potensi banjir dan genangan di lingkungan sekitar,β katanya.
Menurut Iin, sejumlah lahan yang berpotensi untuk dijadikan tempat resapan air berada di bawah pengelolaan perangkat daerah berbeda, termasuk Dinas Pertamanan DKI Jakarta.
Oleh karena itu, realisasi pembangunan embung membutuhkan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut di tingkat provinsi.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, Mustajab, menyebut rencana pembangunan waduk di kawasan Kembangan Utara memiliki potensi seluas 13 hektare.
Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, waduk tersebut juga direncanakan mendukung kebutuhan air baku.
βKalau embung di Kembangan Utara itu sekitar 13 hektare. Selain untuk pengendali banjir, juga sebagai cadangan air baku PAM. Tujuannya, aliran Kali Angke bisa dimasukkan ke waduk tersebut untuk dimanfaatkan sebagai air baku ke depan,β jelas Mustajab.
Meski demikian, besaran pengurangan risiko banjir yang dapat dicapai melalui pembangunan waduk tersebut belum dapat dipastikan.
Menurut dia, perlu kajian teknis untuk menghitung dampak terhadap kawasan yang menjadi daerah tangkapan air.
βKalau kajian harus kita ukur dulu nanti. Belum ada data yang valid. Kalau disampaikan sekarang, dikhawatirkan angkanya tidak sesuai,β kata Mustajab.