Faktor itu juga tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa Jepang tetap menjadi salah satu negara dengan tingkat sampah berserakan yang sangat rendah, meskipun tempat sampah umum sulit ditemukan.
Getty ImagesTempat sampah umum masih ada di Jepang, tetapi lokasinya bisa sangat sulit ditemukan.
Biaya dan pertimbangan praktis juga menjadi bagian dari jawabannya.
Sejak awal 2000-an, sejumlah pemerintah daerah di Jepang secara sengaja mengurangi jumlah tempat sampah di jalanan, kata Aya Yoshida dari National Institute for Environmental Studies (NIES) Jepang.
Kebijakan ini diterapkan untuk mendorong warga membawa pulang sampah mereka sendiri.
"Di Kyoto, misalnya, jumlah tempat sampah di jalanan dikurangi lebih dari separuh sejak 2011. Keputusan itu diambil setelah muncul berbagai persoalan, seperti warga membuang sampah rumah tangga ke dalam tempat sampah umum serta menumpuknya sampah di sekitar lokasi tersebut, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pemeliharaan dan pengelolaannya," ujar Yoshida.
Dengan kata lain, berkurangnya tempat sampah umum bukan semata-mata terkait keamanan, tetapi juga didorong oleh pertimbangan efisiensi biaya dan pengelolaan.
Banyak pemerintah daerah menilai bahwa mengurangi jumlah tempat sampah di ruang publik dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.
Lalu mengapa tidak lebih banyak sampah berserakan di jalanan?
Yoshida mengingatkan agar tidak serta-merta mengaitkan kebersihan Jepang dengan anggapan bahwa masyarakatnya memiliki rasa kerapian yang unik dibandingkan bangsa lain.
Menurutnya, jalanan yang bersih juga merupakan hasil dari kebijakan yang diterapkan secara konsisten selama bertahun-tahun.
"Selama beberapa dekade, pemerintah daerah telah berinvestasi dalam kampanye antisampah, pendidikan publik, pembersihan jalan, serta berbagai langkah desain lingkungan yang dirancang untuk mencegah orang membuang sampah sembarangan," ujarnya.
Namun, menurut Yoshida, norma sosial juga memainkan peran penting. Salah satunya adalah konsep meiwaku o kakenai, yaitu gagasan untuk tidak menimbulkan ketidaknyamanan atau merepotkan orang lain.
Kebiasaan sehari-hari masyarakat Jepang turut berpengaruh. Makan sambil berjalan relatif jarang dilakukan, sehingga orang cenderung menghasilkan lebih sedikit sampah ketika berada di luar rumah.