"Kalau memikirkan pola hidup saya sendiri sehari-hari, saya tidak yakin berapa banyak sampah yang sebenarnya dihasilkan selama perjalanan dari rumah ke tempat kerja dan sebaliknya," kata Siniawer.
"Ada lebih sedikit kesempatan untuk menghasilkan sampah selama bepergian karena makan sambil berjalan atau saat naik kereta bukanlah hal yang lazim di Jepang."
Namun, pengalaman para turis tentu berbeda. Mereka sering menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling, membeli minuman dan camilan dari toko serba ada, sehingga lebih mungkin mendapati diri mereka membawa tumpukan sampah tanpa mengetahui tempat yang tepat untuk membuangnya.
Akibatnya, pengunjung asing kerap merasa kebingungan ketika mencari tempat sampah umum di jalanan Jepang, sesuatu yang bagi warga setempat sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Getty ImagesStasiun Shinjuku tengah menguji coba robot tempat sampah bergerak yang dirancang untuk mengumpulkan sampah dari para penumpang.
Kurangnya tempat sampah yang mudah ditemukan kerap membuat turis bingung dan frustrasi saat pertama kali berkunjung ke Jepang, kata pemandu wisata yang berbasis di Jepang, Junko Yokoo.
Namun banyak turis akhirnya dapat beradaptasi.
"Pada awalnya, tamu-tamu saya sering mengeluhkan sulitnya menemukan tempat sampah yang tersedia. Tetapi mereka juga menikmati melihat jalanan yang bebas sampah dan kemudian belajar menerima prinsip 'saat berada di Tokyo, lakukan seperti orang Tokyo'," ujarnya.
Meski demikian, tempat sampah umum sebenarnya tidak sepenuhnya hilang dari Jepang. Menurut Siniawer, Anda hanya perlu tahu di mana mencarinya.
"Di stasiun kereta masih terdapat tempat sampah, sering kali berupa wadah transparan yang ditempatkan di dekat gerbang tiket sehingga dapat dipantau oleh petugas atau kamera keamanan."
Bahkan, bulan ini Stasiun Shinjuku di Tokyo mulai menguji coba solusi yang mungkin sangat khas Jepang: robot tempat sampah bergerak yang berkeliling untuk mengumpulkan sampah.
Namun, hingga inovasi semacam itu menjadi hal yang umum, para pengunjung tampaknya harus melakukan apa yang sudah lama dilakukan warga Tokyo, yakni menyimpan sampah mereka terlebih dahulu sampai menemukan tempat yang tepat untuk membuangnya.
Dengan kata lain, jalan-jalan Jepang yang bersih bukan semata-mata hasil dari banyaknya tempat sampah umum, melainkan kombinasi antara kebijakan pemerintah, pertimbangan keamanan dan biaya, serta budaya masyarakat yang menekankan tanggung jawab pribadi dan penghormatan terhadap ruang publik.