Selain banjir, material erupsi juga dapat memengaruhi kualitas air baik secara fisik maupun kimia. Sang dosen menyebutkan bahwa masuknya material berukuran halus ke badan air dapat meningkatkan kekeruhan.
Hal ini berbahaya apabila air digunakan oleh masyarakat untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Air yang telah terkontaminasi ini dapat digunakan kembali namun harus melalui proses pengolahan tertentu untuk mengurangi partikel kecil yang melayang dan tidak larut di air.
Secara kimia, air yang terkontaminasi material vulkanik tingkat keasamannya berubah sehingga tidak dapat langsung digunakan dan harus diolah kembali untuk menyesuaikan kualitas dengan kebutuhan konsumsi.
Material vulkanik tidak berhenti di lokasi sekitar erupsi melainkan ikut mengalir hingga wilayah hilir. Material yang berukuran kecil ini bisa terbawa melalui aliran sungai dan kemudian mengendap.
Untuk ukuran material vulkanik yang cenderung lebih besar atau kasar, biasanya akan mengendap di sepanjang jalur sungai.
"Kalau material terbawa sampai ke hilir, biasanya material yang lebih halus akan lebih mudah terbawa, sehingga akhirnya bisa terendapkan di lingkungan pesisir. Pengendapan tersebut kemudian dapat memengaruhi morfologi sungai maupun kawasan pesisir, bahkan dalam kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap terbentuknya delta," jelas Joko.