"Abu yang menutupi permukaan bisa membuat air lebih sulit masuk ke tanah, sehingga alirannya di permukaan menjadi lebih besar," jelasnya.

Joko menjelaskan kondisi ini perlu diwaspadai di daerah dengan curah hujan yang tinggi dan wilayah dengan topografi yang curam seperti pegunungan. Dua kombo ini dapat mempercepat laju air ke daerah yang lebih rendah sehingga dapat berujung terjadinya banjir.

Aliran air di permukaan tanah dapat membawa material vulkanik dengan konsentrasi sedimen tinggi, sehingga dapat membentuk aliran debris yang juga dikenal sebagai lahar dingin.

Konsentrasi sedimen yang rendah dapat menyebabkan banjir. Namun, konsentrasi sedimen yang tinggi berhubungan dengan massa dan momentum yang dimiliki oleh aliran air, sehingga dapat memberikan dampak yang lebih berat dibandingkan dengan banjir biasa.

Perbedaan konsentrasi sedimen ini baru bisa dilihat saat aliran air surut. Banjir biasa pada umumnya meninggalkan sedimen yang lebih halus atau berubah menjadi lumpur karena terkena basah. Sedangkan, lahar cenderung meninggalkan material yang lebih kasar dalam jumlah besar.

"Ketika surut, banjir lahar atau aliran debris akan menyisakan material kasar dan sulit untuk dibersihkan seperti semula. Bahkan di beberapa kasus, jika sudah tertimbun aliran debris hingga mendekati atap akan sulit dibersihkan," katanya dikutip dari ITB.