Hal yang mencuri perhatian dalam PKKMB tahun ini adalah hadirnya kesenian tradisional Jaranan Buto asal Banyuwangi. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen Untag Surabaya dalam menguatkan nilai kebangsaan dan melestarikan budaya nasional.
Harjo menjelaskan, Untag Surabaya secara konsisten mengangkat kebudayaan daerah yang berbeda setiap tahunnya. Jika tahun-tahun sebelumnya pernah menyajikan kesenian wayang, tahun ini giliran Jaranan Buto yang diperkenalkan kepada para mahasiswa.
"Ini sebagai identitas Untag. Pesan yang ingin kita tekankan kepada masyarakat maupun mahasiswa adalah bahwa ini merupakan komitmen Untag Surabaya untuk ikut melestarikan budaya bangsa. Budaya yang kami tampilkan adalah Jaranan Buto. Jadi, kami tidak hanya sekadar slogan bahwa kita harus melestarikan budaya, tetapi ini merupakan bukti konkret. Dalam bahasa Jawa, kita nanggap, yang artinya ikut melestarikan," jelasnya.
Pilihan jatuh pada Jaranan Buto, karena kesenian khas Banyuwangi ini dinilai masih asing bagi sebagian generasi muda, sehingga momentum PKKMB menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkannya secara langsung.