Saat kedua pemimpin duduk bersama untuk melakukan pembicaraan yang sangat dinanti-nantikan, mereka akan menghadapi berbagai isu, terutama kekhawatiran yang kian meningkat bahwa AI dapat mengancam kelangsungan umat manusia.

Namun, di tengah persaingan sengit antara China dan Amerika Serikat untuk meraih supremasi AI, kecil kemungkinannya akan tercapai kesepakatan antara Trump dan Xi untuk mengatur teknologi yang berkembang pesat ini.

Pembicaraan awal pada Minggu (20/9), antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan mitranya dari China, He Lifeng, membahas pembentukan saluran komunikasi terkait kekhawatiran seputar AI, namun tidak banyak rincian yang diungkapkan.

Perang dagang yang masih membara antara dua ekonomi terbesar dunia serta ketegangan yang terus berlangsung terkait isu Taiwan juga diperkirakan akan mendominasi jalannya diskusi.

Salah satu kekuatan negosiasi China adalah dominasinya dalam pasokan logam tanah jarang--material krusial untuk produk berteknologi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh produsen AS--yang pernah digunakan Tiongkok untuk menekan Washington agar membatalkan kebijakan tarif tahun lalu.

Sementara itu, terkait isu Iran, Trump tidak memandang perlu untuk mengangkat tuduhan bahwa Tiongkok telah memasok citra satelit kepada Teheran untuk keperluan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Jonathan Czin dari Brookings Institution mengatakan harapan akan hasil konkret sangat kecil, selain kemungkinan perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang disepakati saat Xi dan Trump bertemu di Korea Selatan tahun lalu.