2. Penertiban antrean: kendaraan wajib masuk ke kapal sesuai urutan antrean dan tidak ada lagi aksi pengawalan ke kapal.
3. Disiplin waktu operasional: seluruh pihak berkomitmen disiplin terhadap port time (30 menit waktu bongkar muat) guna mengoptimalkan jumlah trip dan muatan.
4. Pola fleksibel saat padat: apabila terjadi antrean padat di kedua sisi (Gilimanuk-Ketapang), aturan TBB tidak diberlakukan dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
5. Penanganan khusus: kendaraan golongan 83 yang memerlukan perlakuan khusus akan diatur lebih lanjut oleh otoritas pelabuhan.
6. Sanksi ketat bagi pelanggar: asosiasi sopir berjanji mematuhi arahan petugas di lapangan. Sopir maupun petugas yang terbukti melanggar aturan di area pelabuhan bersedia dikenakan sanksi tegas.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengerahkan dua armada kapal bantuan di Selat Bali untuk mengurai kepadatan kendaraan di kawasan Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Kepadatan tersebut dipicu oleh pengerjaan perbaikan infrastruktur dermaga di kawasan pelabuhan.
Dua kapal yang dikerahkan yakni KMP Jatra I dan KMP Portlink 0. Keduanya telah diberangkatkan menuju Tanjung Wangi sejak Sabtu (5/9/2026) dan dijadwalkan tiba pada Selasa (8/9/2026).
Setibanya di Tanjung Wangi, KMP Jatra I bakal langsung memperkuat pelayanan di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Sementara itu, KMP Portlink 0 disiagakan untuk melayani lintasan Tanjung Wangi-Lembar dengan Pelabuhan Gili Mas.
"Pengaturan ini merupakan bagian dari strategi optimalisasi jaringan lintasan untuk meningkatkan kapasitas layanan, sekaligus membantu mengurangi tekanan volume kendaraan pada lintasan Ketapang-Gilimanuk," ungkap General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/9/2026).
Media juga menjelaskan bahwa ASDP bersama regulator dari KSOP dan BPTD terus mengoptimalkan jumlah kapal yang beroperasi setiap harinya, dengan pola operasi hingga 8 trip.
"Kami mengapresiasi kesabaran dan pengertian seluruh pengguna jasa yang terdampak kondisi ini. Kami akan terus bekerja di lapangan dan melakukan evaluasi secara berkala agar setiap kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal," ujar Media.