Pemerintah Kabupaten Bangkalan juga menerapkan konsekuensi berupa penundaan pembayaran tambahan penghasilan pegawai (TPP) bagi perangkat daerah yang belum memenuhi komitmen tersebut.

Lukman memaparkan dua inovasi unggulan Kabupaten Bangkalan, yakni Karna Pitaloka dan Amphibi atau Ambulans Peduli Tretan Dhibi. Kedua inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di bidang pertanian dan kesehatan.

Karna Pitaloka merupakan inovasi pemetaan petak sawah dan identifikasi lahan pertanian berbasis geospasial. Program tersebut bertujuan memperbaiki tata kelola pupuk bersubsidi agar lebih tepat sasaran sekaligus mendukung perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Melalui pemanfaatan teknologi, inventarisasi lahan produktif, pemberdayaan kelompok tani, dan pendampingan penyuluh, pemerintah daerah berupaya memastikan penyaluran pupuk sesuai kebutuhan petani.

Inovasi tersebut juga mendapat apresiasi dari PT Pupuk Indonesia. Bahkan, Kementerian Pertanian telah berkunjung ke Bangkalan untuk melihat penerapannya sebagai referensi pengembangan kebijakan di tingkat nasional.

Adapun Amphibi dikembangkan untuk memperluas akses pelayanan kesehatan melalui layanan ambulans dan penanganan pasien secara gratis selama 24 jam.

Layanan tersebut tidak hanya menyediakan penjemputan pasien dalam kondisi darurat, tetapi juga mendukung penanganan medis sesuai kebutuhan, termasuk bagi pasien dengan penyakit jantung.

“Amphibi telah terbukti dapat diandalkan dengan catatan 393 penerima manfaat pada tahun 2025 serta 241 penerima manfaat hingga September 2026,” ungkap Lukman.

Paparan kedua kepala daerah tersebut menunjukkan pengembangan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat melalui dukungan regulasi, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi berbagai pihak.