“Setiap wilayah memiliki kegiatan ekonomi dan kebutuhan distribusi yang berbeda. Ada kawasan yang membutuhkan pengiriman bahan industri, ada pula jalur yang melayani pergerakan hasil perkebunan dan barang konsumsi. Jaringan kereta api membantu menghubungkan kebutuhan tersebut melalui layanan angkutan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing koridor,” ujar Anne.
Dari total angkutan non-batu bara tersebut, wilayah operasi KAI di Jawa mencatat volume 6.684.683 ton sepanjang Januari–September 2026. Sementara itu, wilayah Sumatra mencatat 2.463.889 ton. Dengan demikian, sekitar 73 persen volume angkutan non-batu bara berasal dari wilayah Jawa dan 27 persen dari Sumatra.
Di Jawa, layanan angkutan barang tersebar di sembilan daerah operasi. Daop 1 Jakarta mencatat volume terbesar sebesar 2.567.115 ton, disusul Daop 8 Surabaya sebanyak 2.260.233 ton dan Daop 5 Purwokerto sebanyak 1.006.418 ton. Daop lainnya turut melayani berbagai kebutuhan pengiriman sesuai karakter wilayah masing-masing.
Di Sumatra, layanan angkutan barang non-batu bara dikelola melalui empat divisi regional. Divre III Palembang mencatat 646.893 ton, Divre I Sumatera Utara 626.185 ton, Divre II Sumatera Barat 893.635 ton, dan Divre IV Tanjungkarang 297.175 ton selama Januari–September 2026.