"Fase ini berakhir pada pukul 20.51.53 saat kereta berada pada jarak 322 meter (Km 28+641), dengan posisi throttle pada T4, tekanan BP 49 psi, arus motor traksi 144 A, dan kecepatan 79 km/jam. Berdasarkan rekaman percakapan antara PPKP timur dan Asisten Masinis KA 4B (KA Anggrek), informasi mengenai adanya tabrakan di jalur hilir JPL Bekasi Timur diterima dalam rentang waktu 20.51.06 sampai dengan 20.51.18," tulis KNKT.

Setelah menerima informasi tersebut, kata KNKT, masinis mulai melakukan pengereman dengan mengoperasikan tuas rem otomatis ke posisi minimum reduction selama 9 detik, yaitu dari pukul 20.51.18 sampai dengan 20.51.27. Tindakan ini, menurut KNKT, ditandai dengan penurunan tekanan BP sebesar 6 psi, dari 71 psi menjadi 65 psi.

Pada pukul 20.51.33, KNKT mengatakan asisten masinis KA 4B menginformasikan kepada PPKP timur bahwa sinyal B104 menunjukkan aspek merah. Pada pukul 20.51.34, masinis KA 4B menggerakkan tuas rem otomatis ke posisi full service dan mempertahankannya hingga pukul 20.51.43.

"Selama periode tersebut, kereta bergerak dari jarak 863 meter (Km 28+078) hingga 611 meter (Km 28+333), sementara posisi throttle diturunkan secara bertahap dari T7 ke T5. Pada saat yang sama, tekanan udara BP mengalami penurunan signifikan dari 62 psi menjadi 49 psi dalam waktu 9 detik. Tekanan BP sebesar 49 psi menunjukkan bahwa pengereman full service telah terbentuk sepenuhnya," tulis KNKT.

Singkat cerita, pada rentang waktu 20.51.43 hingga 20.51.55 atau pada posisi jarak 611 meter (Km 28+078) hingga 322 meter (Km 28+619), masinis mempertahankan pengereman pada posisi full service. Hal ini ditunjukkan oleh tekanan udara BP yang tetap berada pada 49 psi selama 13 detik. Pada posisi jarak 344 meter (km 28+545), masinis menurunkan posisi throttle dari T5 menjadi T4.

KNKT menyebut fase emergency brake berlangsung selama 25 detik mulai pukul 20.51.56 hingga 20.52.21. Emergency brake diaktifkan pada Km 28+588 atau sekitar 275 meter sebelum KA 4B (KA Anggrek) menabrak KRL KA 5568A di Km 28+915.

"Setelah tabrakan, KA 4B terus bergerak sejauh 26 m dan akhirnya berhenti di Km 28+941. Emergency brake diaktifkan saat kecepatan KA telah turun menjadi 78 km/jam. Tindakan ini dilakukan oleh masinis sebagai upaya terakhir untuk menghentikan kereta setelah melihat rangkaian paling belakang KA 5568A," ujar KNKT.

Dalam rentang waktu 4 detik, kata KNKT, tekanan BP turun drastis dari 43 psi menjadi 0 psi. Sementara, tekanan BC meningkat tajam dari 0 psi menjadi 70 psi.

"Pada periode yang sama, posisi throttle turun secara bertahap dari T4 ke T1 kemudian ke posisi idle. Aktivasi emergency brake pada rangkaian kereta api ditunjukkan oleh indikator pneumatic control switch (PCS) yang berubah ke posisi 'Open'. Kondisi ini secara otomatis memutus (cut-off) arus listrik ke motor traksi, memaksa throttle berada pada posisi idle, serta menyebabkan arus motor traksi turun drastis dari 104 A menjadi 0 A," tulis KNKT.

Selama periode tersebut, kata KNKT, kecepatan kereta berkurang dari 78 km/jam menjadi 70 km/jam. Saat pengereman darurat masih dilakukan, pada pukul 20.52.03 atau di jarak 163 meter, posisi throttle idle, tekanan BP 0 psi, tekanan BC 70 psi, beban arus motor traksi lokomotif di 0 A dan kecepatan 65 km/jam. KNKT menyatakan masinis KA 4B mengaktifkan rem independen, yaitu sistem pengereman yang mengalirkan udara bertekanan langsung dari reservoir ke piston penekan di dalam BC lokomotif dan bekerja secara terpisah dengan rem rangkaian kereta.

"Penggunaan rem independen ini diketahui dari indikator independent brake system (IBS) dalam logger lokomotif KA 4B menunjukkan indikasi 'Appl' atau applied yang sebelumnya menunjukkan indikasi 'Rel' atau release. Dalam kondisi ini pengereman darurat sudah terlebih dahulu dilakukan, di mana tekanan udara di BC lokomotif sudah mencapai tekanan 70 psi, yang merupakan tekanan udara maksimal di BC sehingga gaya pengereman di blok rem lokomotif untuk menekan roda lokomotif sudah mencapai batas maksimal. Aktivasi rem independen pada lokomotif tidak memberikan efek gaya pengereman tambahan," tulis KNKT.

KNKT menyatakan pengereman service brake dilakukan setelah masinis menerima informasi dari PPKP timur soal kecelakaan di perlintasan sebidang antara KRL dari arah Stasiun Tambun dengan taksi listrik. KNKT menyebut masinis KA Anggrek menambah pengereman hingga full service setelah melihat sinyal blok B104 menunjukkan aspek merah.