Sejak 2022, tambahan 1,3 juta kilometer persegi wilayah daratan dan 6 juta kilometer persegi wilayah laut telah memperoleh perlindungan resmi, ungkap Guterres. Namun, sekalipun komitmen nasional saat ini terpenuhi, hanya 26 persen wilayah daratan dan 12 persen wilayah laut yang akan terlindungi pada 2030. Angka tersebut belum mencapai target global, yakni masing-masing 30 persen untuk wilayah daratan dan laut. Pendanaan juga masih menjadi kendala utama. Mengutip laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Guterres mengatakan bahwa pendanaan untuk keanekaragaman hayati masih kurang dari separuh target tahunan sebesar 200 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.948) yang ditetapkan dalam kerangka kerja tersebut. "Keanekaragaman hayati bukanlah tantangan yang terpisah," tuturnya, seraya menekankan keterkaitannya dengan perubahan iklim, konflik, kerawanan pangan, dan penyakit. Guterres mendesak pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha untuk mempercepat implementasi kerangka kerja tersebut, seraya menyerukan penerapan pertanian berkelanjutan, ekonomi sirkular, pemantauan lingkungan yang lebih kuat, serta penegakan yang lebih ketat atas peraturan yang sudah berlaku.