Warga lain, Nurul, mengungkapkan keberadaan tenda bukan semata untuk tempat tinggal permanen, melainkan sebagai tempat berteduh saat mereka membersihkan puing-puing rumah di siang hari.

"Ada ada di sana (rusunawa), tetapi ini kan yang mau tinggal sini untuk jaga-jaga gitu, kadang-kadang mereka mau nginap di sini makanya dia bangun tenda dari terpal," tegas Nurul.

Nurul menegaskan bambu-bambu yang terlihat bukan dimaksudkan untuk membangun kembali rumah yang permanen, melainkan hanya sebagai penyangga terpal tempat sementara. Keinginan warga untuk segera membangun juga didorong oleh kepercayaan adat mengenai waktu yang tepat untuk mendirikan bangunan, yakni di bulan Maulid.

"Ini bukan bangun rumah permanen, ini untuk berteduh aja itu dari sinar matahari kan panas kan gini lagi bersih-bersih terus kita diam-diam di sini kan tempat berteduh," tegas Nurul.

Jali, warga lain, menjelaskan tenda bambu ini hanyalah solusi sesaat sembari menunggu bantuan material dari pemerintah turun. Pembangunan dapat dimulai pada bulan yang dianggap baik menurut keyakinan masyarakat setempat. Keterikatan emosional warga dengan tanah leluhur mereka menjadi alasan utama mengapa fasilitas Rusunawa yang modern tidak sepenuhnya diminati.