"Sebelum mendarat, setengah perjalanan itu memang diinfokan bahwa jalur laut di Pelabuhan Bakauheni, jalur pesawat juga ditutup karena Gunung Anak Krakatau itu sudah mulai meletus. Jadi banyak debu-debu yang berterbangan," kata Ahmad.
Karena kondisi tersebut, pesawat yang ditumpanginya tak bisa mendarat di Soekarno-Hatta dan akhirnya dialihkan ke BIJB Kertajati.
"Jadi nggak bisa mendarat di Soekarno-Hatta, makanya kita digeser ke Majalengka sini, Kertajati sini," ujarnya.
Ahmad dan sejumlah jemaah lainnya merupakan warga Lampung. Setelah tiba di BIJB Kertajati, persoalan baru muncul. Mereka belum mengetahui bagaimana cara melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. Pasalnya, perjalanan menuju Lampung juga terdampak karena jalur air maupun udara ikut terganggu.
"Ke Lampung-nya kita juga belum tahu, apakah mau dikasih naik bus, apa kita ditunda dulu di sini. Karena enggak bisa ini, ditutup semua ini yang arah ke Lampung ini. Jalur laut ditutup, jalur pesawat terbang juga ditutup karena Gunung Anak Krakatau ini," ujarnya.
"Teknis (pulang) nya seperti apa juga kita lagi nunggu bus. Katanya sih diinfokan kita mau ke Soekarno-Hatta naik bus. Bus dari Garuda ini. Makanya kita lagi tunggu di terminal Majalengka ini," sambungnya.
Di tengah ketidakpastian itu, Ahmad mengaku terus berkomunikasi dengan keluarganya di Lampung. Keluarganya pun ikut cemas mendengar kondisi abu vulkanik yang berdampak ke wilayah mereka.