Teteng menambahkan, pihak agensi lokal di Fiji justru lepas tangan dan meminta agar para ABK dipulangkan saja ke Indonesia oleh KBRI.

Sementara itu, perusahaan manning agency di Jakarta yang memberangkatkan mereka, dinilai tidak menunjukkan pertanggungjawaban.

"Pihak keluarga di Sukabumi sudah mendatangi kantor agensi di Jakarta, tapi laporannya malah seperti tidak dipercaya dan diabaikan. Karena posisi kami ada di tengah laut dan air bersih pun sudah habis, harapan kami pemerintah segera membantu kepulangan kami ke Tanah Air serta menuntaskan hak gaji kami," pungkasnya.

Para ABK sendiri sudah melayangkan laporan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suva. Laporan tersebut dibuat tak lama setelah mereka ditinggalkan tanpa kejelasan oleh pihak pengelola kapal.

Teteng mengungkap berkas pengaduan resmi itu telah ditandatangani oleh seluruh kru WNI yang berjumlah tujuh orang.

"Iya, itu berkas resmi dari pihak KBRI terus diisi sama kita-kita yang tujuh orang untuk laporan resmi ke KBRI. Laporan sudah sekitar tiga minggu lalu, pas kita mulai tidak dikasih makanan dan bos Chinanya kabur bawa uang perusahaan," ujar Teteng.

Teteng mengatakan, perwakilan dari KBRI Suva pun telah mengecek langsung ke kantor perwakilan agensi di Fiji guna memastikan kebenaran nasib yang dialami para kru kapal.

"Sempat datang dari pihak KBRI ke kantor Fiji di sini menanyakan kebenarannya. Malah saya dan teman-teman dapat bantuan kiriman makanan juga dari pihak KBRI, sudah dua kali dikirim ke kapal," tuturnya.