Sentilan Musk seolah mengulang peringatan serupa pada Desember 2024 lalu. Kala itu, ia menyebut Singapura dan sejumlah negara maju lainnya berada di ambang 'Kepunahan' akibat susutnya angkatan kerja dan lonjakan populasi lansia (ageing population).
Pria yang memiliki 14 anak ini konsisten menilai bahwa melahirkan keturunan adalah syarat mutlak menjaga keberlangsungan peradaban.
Meski begitu, respons netizen justru terbelah. Banyak warganet menilai peringatan Musk mengabaikan realitas ekonomi yang membelit pasangan muda saat ini.
"Masalah utamanya adalah biaya tempat tinggal. Begitu harga hunian melonjak, angka kelahiran otomatis anjlok," celetuk salah satu netizen di kolom komentar.
"Sebuah peradaban tidak runtuh ketika mereka kehabisan manusia. Peradaban mulai runtuh saat memiliki anak menjadi hal yang tidak masuk akal secara ekonomi," timpal warganet lainnya.