Kekhawatiran semakin meningkat setelah empat orang ditemukan meninggal di Jeju dalam rentang 22-24 Agustus. Pada 22 Agustus, seorang pria berusia 60-an ditemukan meninggal di Gujwa-eup. Kasusnya menjadi sorotan karena laporan kehilangannya juga diduga ditutup secara keliru oleh petugas yang menangani kasus Jang.
Sehari kemudian, seorang pria yang diperkirakan berusia 70-an dan sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan di perairan Jocheon-eup. Pada 24 Agustus, korban lain ditemukan meninggal di dekat sebuah lembah di Aewol-eup. Di hari yang sama, jasad Jang ditemukan di Hallim-eup.
Pada 29 Agustus, jasad seorang anggota militer berusia 20-an ditemukan di pesisir dekat Pelabuhan Haye, Seogwipo. Dia meninggalkan rumah dua hari sebelumnya dengan membawa perlengkapan memancing dan kemudian tak dapat dihubungi.
Polisi meyakini tidak ada unsur kriminal dalam kasus-kasus tersebut. Namun, karena kabar kematian muncul berdekatan, sejumlah kasus yang sebenarnya tidak berkaitan mulai digabungkan di media sosial dan komunitas online. Informasi yang belum terverifikasi serta klaim yang dibesar-besarkan kemudian memunculkan kesan bahwa Jeju tidak aman.
Narasi tersebut bahkan ramai disebut sebagai "Jeju horror story" atau "kisah horor Jeju". Kondisi itu membuat industri pariwisata khawatir. Jika persepsi bahwa seluruh Jeju tidak aman terus berkembang, pembatalan perjalanan dan berkurangnya pemesanan baru dikhawatirkan meningkat.
"Kami memahami bahwa ada sejumlah pembatalan perjalanan ke Jeju setelah pemberitaan mengenai kasus-kasus tersebut muncul," kata seorang pelaku industri pariwisata.