NADIKABAR.COM — Rendi, pemuda asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), disebut meninggal dunia setelah diduga sebagai tentara bayaran yang membela Rusia. Pihak Pemkab berkoordinasi dengan Kemlu terkait ini.
Starki, Ketua RT 03 RW 01 Air Keruh, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna, mengatakan informasi mengenai kondisi Rendi diperoleh dari pihak keluarga dan rekan Rendi yang berada di Indonesia.
"Pihak keluarga dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal," kata Starki, dilansir NadiKabar, Rabu (30/10/2026).
Starki mengatakan Rendi meninggalkan Natuna sekitar 2022 untuk mencari pekerjaan. Awalnya Rendi disebut pergi ke Tanjungpinang, kemudian Batam dan Jakarta.
"Dia meninggalkan Ranai sekitar 2022. Tujuan awalnya ke Tanjungpinang, cari kerja. Setelah beberapa tahun di Tanjungpinang, ke Batam, kemudian ke Jakarta," ujarnya.
Menurutnya, keluarga masih mengetahui keberadaan Rendi ketika bekerja di Filipina. Rendi disebut bekerja di bidang jaringan atau internet.
"Kemudian, sekitar Februari-Maret 2026, keluarga mendapat informasi bahwa Rendi berada di Rusia. Berdasarkan informasi, Rendi berangkat dari Jakarta menuju Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia sekitar Mei 2026," Ujarnya.
Starki mengatakan keluarga awalnya mendapat informasi bahwa Rendi bekerja di Rusia bukan sebagai tentara, melainkan di bagian logistik makanan.
"Jadi keterangan si Rendi ini, dia bekerja di Rusia itu bukan sebagai tentara bayaran, tapi sebagai pengantar logistik makanan," ujarnya.
Namun, belakangan keluarga menyebut Rendi bercerita bahwa dirinya akan dipindahkan dari pekerjaan logistik menjadi pasukan tempur.
Menurut Starki, Rendi disebut tidak bersedia dengan pemindahan tersebut karena tidak sesuai dengan pekerjaan yang sebelumnya disepakati.
"Dia menolak karena tidak sesuai dengan kontraknya. Setelah itu dia sudah pasrah, mau mundur tidak bisa, mau tidak mau ikut alur. Tidak bisa kembali ke Indonesia karena paspornya ditahan," Ujarnya.
Setelah beberapa waktu berada di Rusia, komunikasi Rendi dengan keluarganya disebut terputus. Keluarga awalnya mengira telepon Rendi tidak aktif karena persoalan baterai atau kondisi lainnya.
Namun, keluarga kemudian mendapat informasi dari rekan Rendi di Indonesia bahwa Rendi telah meninggal dunia.
"Tak lama kemudian dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal," kata Starki.
Bupati Natuna Cen Sui Lan menyikapi kabar ini. Pemerintah Kabupaten Natuna disebut tengah berkoordinasi dengan pihak keluarga.
"Dari Pemerintah Kabupaten sudah menegaskan Kesbangpol untuk berkoordinasi dengan keluarga. Informasi yang kita dapatkan masih simpang siur. Tentunya kita mengharapkan, kalau memang sudah meninggal, apa solusinya supaya bisa segera dibawa kembali," kata Bupati Cen Sui di rumah dinas Pemkab Natuna, Bukit Arai, Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Rabu (30/9/2026).
Cen Sui Lan mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait kabar tersebut. Pemkab Natuna menyampaikan duka kepada keluarga atas informasi yang didapat.
"Tetapi kita tetap harus berkoordinasi dengan pusat, karena saya kan tidak mungkin bekerja sendiri. Keberangkatan almarhum juga tidak kita ketahui. Ada informasi beliau sudah pernah ke Filipina, kemudian ke Rusia. Apa pun itu, Pemerintah Kabupaten Natuna sangat berduka. Kami sangat berduka ada anak-anak kami yang harus sampai ke luar negeri sebagai tentara," ujar dia.
Ia menyebut koordinasi dengan Kemlu dibutuhkan demi mengusut hal ini. Ia menekankan tak boleh ada WNI yang menjadi tentara di negara mana pun.
"Dan tentunya kami berkomitmen bagaimana penyelesaian ini dapat diselesaikan dengan baik. Tentunya kita harus berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri bagaimana penyelesaiannya. Dan perlu ditegaskan, apa pun itu, tidak boleh ada warga negara Indonesia menjadi tentara negara lain," ujar dia.
Bupati Natuna mengatakan pihaknya baru menerima informasi itu dua hari yang lalu. Pihaknya telah meminta Kesbangpol untuk mengunjungi keluarga pihak terkait.
"Orang baru dapat kabarnya cuma 2 hari yang lalu. Iya, itu pun karena kita juga mendengarnya, kemudian kemarin saya suruh Kesbangpol sudah komunikasi dengan keluarganya," ujar dia.
Cen Sui mengatakan hingga kini belum diketahui motif dari pemuda yang dikabarkan menjadi tentara Rusia dan tewas saat perang terjadi.
"Dan beliau sebenarnya kita juga nggak tahu apa motifnya, apakah benar menjadi tentara di sana atau menjadi. Ada informasi beliau hanya mengantar, mengantar ini ya, sebagai logistik ya. Apapun itu tidak boleh warga negara Indonesia menjadi tentara di luar negeri, itu," ucapnya.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani turut menanggapi kabar WNI yang menjadi tentara Rusia. Ia menekankan lapangan pekerjaan hingga kehidupan bagi masyarakat RI wajib hukumnya.
"Saya kira tugas kita semua, tugas kami adalah menjaga kedaulatan negara termasuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk tetap loyal dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Muzani di Kantor Dinas Kabupaten Natuna.
"Iming-iming ataupun tawaran-tawaran terhadap pekerjaan lain apalagi yang berkonotasi kepada tentara bayaran, saya kira sesuatu yang jelas tidak dibenarkan. Tetapi di sisi lain kita juga harus menyediakan lapangan pekerjaan dan kelayakan hidup yang lebih baik supaya hal seperti itu tidak terulang," imbuhnya.