Dampaknya, lanjut dia, banyak industri menengah yang gulung tikar, sehingga jumlah masyarakat kelas menengah menyusut hingga 9 juta orang dalam kurun waktu lima tahun sepanjang 2019-2024.
Ia berharap upaya untuk menghidupkan kembali industri tingkat menengah tidak hanya mendorong semakin banyak masyarakat naik kelas, tapi juga dapat menciptakan efek pengganda dan meningkatkan kecepatan perputaran uang untuk mendukung pertumbuhan industri kecil dan mikro di bawahnya.
Ivan menuturkan, saat ini neraca perdagangan di sektor industri budaya antara Indonesia dan China masih mencatatkan defisit. Sebagai contoh, gim mencatatkan total transaksi domestik hingga Rp35 triliun per tahun dengan 99 persen pangsa pasar dikuasai oleh produk asal China.
Padahal, Indonesia memiliki sekitar 200 juta pemain gim dan industri tersebut tercatat 10 kali lipat lebih besar dibanding industri film di tingkat nasional.
Ia mendorong agar pemerintah lebih memperhatikan sektor tersebut agar Indonesia tidak hanya sebatas menjadi pasar bagi berbagai produk budaya global, tapi juga mampu membangun industri budaya nasional yang kuat serta membuka akses untuk karya anak-anak bangsa ke pasar hiburan global.
“Sebagai generasi muda kita nggak boleh abai (terhadap potensi di industri budaya), karena bakal jadi opportunity loss (kehilangan peluang),” ujar Ivan.