"Saya rasa tentunya negara yang paling besar transaksinya adalah China, yang kedua adalah Amerika, tapi yang kelihatannya emerging adalah negara-negara di Eropa yang membutuhkan produk kita," ujarnya.

Dalam diskusi panel, Anindya menyebut kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Eropa membuka peluang perdagangan produk alas kaki, tekstil, pakaian jadi, elektronik, dan furnitur.

Selain pasar Eropa, ia memandang negara-negara anggota BRICS sebagai pasar potensial untuk memperluas hubungan perdagangan dan kerja sama ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor industri pengolahan Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai 159,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.894 triliun, meningkat 7,87 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Industri pengolahan menyumbang 85,95 persen dari total ekspor nonmigas pada periode tersebut.

Sementara itu, China menjadi tujuan terbesar ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 dengan pangsa 25,55 persen, disusul Amerika Serikat sebesar 12,07 persen dan India sebesar 6,88 persen.