Mintardjo mengatakan bahwa Indonesia dan negara-negara Afrika Barat memiliki peluang untuk menjajaki kolaborasi di bidang pertanian, pengolahan makanan, manufaktur, barang kebutuhan konsumen (consumer goods), dan logistik.

Namun, ia menyoroti minimnya perjanjian dagang bilateral antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Afrika. Menurutnya, tanpa kesepakatan dagang, produk-produk asal Afrika dapat kehilangan daya saing akibat tingginya bea masuk dan adanya pembatasan perdagangan.

Ia pun berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan pembentukan perjanjian dagang dengan negara-negara Afrika, baik berupa Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) maupun Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA).

β€œIndonesia dan Afrika Barat perlu membicarakan mengenai perjanjian perdagangan preferensial, baik PTA maupun FTA, demi menurunkan tarif dan hambatan perdagangan agar perekonomian kita dapat tumbuh bersama. Jika tidak, perdagangan antara kedua pihak tidak akan berkembang secara optimal,” ucap Mintardjo.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Koordinator Fungsi Ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dakar Alex Rudini Sulaiman mengajak para pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki investasi dalam bidang industrialisasi di negara-negara Afrika Barat, terutama Senegal.