Badak sumatera berstatus kritis terancam punah menurut IUCN Red List, dengan jumlah tidak lebih dari 80 ekor di alam. Satwa ini kini hanya tersisa di Indonesia, tersebar di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kalimantan Timur.

Dengan siklus kebuntingan 15-16 bulan dan masa menyapih hingga dua tahun, setiap kebuntingan dan kelahiran tidak hanya menambah individu baru, tetapi juga memperkuat peluang menjaga keragaman genetik dan membangun populasi untuk konservasi jangka panjang.

Melalui program pengembangbiakan di SRS TNWK, hingga kini telah lahir lima ekor badak sumatera: Andatu (2012), Delilah (2016), Sedah Mirah (2022), Anggi (2023), dan Indra (2023). Program ini dikelola secara kolaborasi Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Way Kambas dan mitra, YABI.

SRS merupakan fasilitas pengembangbiakan semi-in-situ yang menempatkan badak di habitat alaminya dengan interaksi manusia seminimal mungkin, disertai dukungan perawatan medis dan pemantauan reproduksi secara intensif.