Setelah melalui proses pembangunan, jalur Semarang–Tanggung resmi beroperasi pada 10 Agustus 1867. Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal perjalanan kereta api di Indonesia, membuka era baru transportasi berbasis rel yang menghubungkan manusia dan distribusi barang antarwilayah.

Stasiun Tanggung menjadi salah satu saksi perjalanan awal tersebut. Keberadaannya merekam fase pertama perkembangan perkeretaapian Indonesia ketika jaringan rel mulai dibangun untuk mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Dari Stasiun Tanggung, perjalanan KLB dilanjutkan menuju Stasiun Kedungjati yang memiliki peran penting dalam perkembangan jaringan kereta api di Jawa Tengah. Pada masa perkembangan awal perkeretaapian, Kedungjati menjadi titik strategis yang menghubungkan berbagai jalur perjalanan menuju wilayah lain.

Kedungjati berkembang sebagai bagian dari jaringan NIS dengan keterhubungan menuju Surakarta dan Ambarawa. Salah satu tonggak sejarahnya adalah pembukaan lintas Kedungjati–Ambarawa pada 21 Mei 1873, yang memperluas jaringan kereta api dan memperkuat konektivitas antarwilayah di Jawa Tengah.

“Stasiun Tanggung menjadi pengingat bagaimana perjalanan kereta api Indonesia dimulai sejak 1867. Sementara Kedungjati menunjukkan bagaimana jaringan kereta api terus berkembang dan menghubungkan berbagai wilayah. Dari perjalanan sejarah ini kita dapat melihat bahwa kereta api memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia,” kata Bobby.