"Kami melihat kondisi saat ini, KRL sudah amat sangat padat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi ini tentu tidak nyaman bagi masyarakat. Karena itu, kami mendorong adanya penambahan jumlah KRL agar kepadatan bisa dikurangi. Tetapi penambahan armada harus dibarengi dengan peningkatan standar keselamatan dan kenyamanan penumpang," kata Rivqy.
Ia berharap KAI mencari solusi jangka panjang menindaklanjuti kepadatan penumpang KRL yang terus bertambah. Menurutnya, KRL Jabodetabek sudah menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat dengan biaya yang relatif terjangkau.
"Artinya, kebutuhan terhadap transportasi massal berbasis rel terus meningkat. Kepadatan tidak bisa terus dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima masyarakat. Negara harus hadir memastikan pertumbuhan jumlah penumpang diikuti pertumbuhan kapasitas layanan," tegasnya.
PT KAI diketahui kembali mengusulkan impor KRL bekas pakai dari luar negeri. KAI menilai langkah ini sebagai solusi darurat untuk mengatasi ancaman krisis atau kekurangan armada KRL Jabodetabek pada periode 2026 hingga 2029.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan armada KRL yang ada saat ini sudah memasuki usia kritis. Banyak di antaranya yang terpaksa harus dipensiunkan atau dikonservasi karena faktor usia dan keselamatan.