NADIKABAR.COM — Kandidat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Carolyn Rodrigues-Birkett mengatakan peran PBB dalam menyusun aturan internasional terkait kecerdasan buatan (AI) akan semakin penting di masa mendatang.

Rodrigues-Birkett, yang saat ini menjabat sebagai perwakilan Guyana untuk PBB, mengatakan negara-negara anggota pada akhirnya akan membutuhkan peran PBB dalam tata kelola AI.

"Negara-negara anggota akan sampai pada titik ketika peran PBB dalam hal tata kelola AI akan semakin maju," kata Rodrigues-Birkett kepada RIA Novosti.

Menurut dia, banyak negara telah mulai mengembangkan pendekatan masing-masing untuk mengatur AI. Namun, kebutuhan akan aturan bersama yang dapat diterapkan oleh seluruh negara semakin banyak dibahas di tingkat global.

Rodrigues-Birkett mengatakan perkembangan AI yang sangat cepat menuntut PBB beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan teknologi, terutama karena teknologi tersebut turut memengaruhi diplomasi.

"Namun, di era teknologi saat ini, dengan AI, berbagai hal terjadi bukan dalam hitungan dekade. Setiap hari kita melihat hal-hal baru terjadi. Karena itu, saya yakin PBB juga harus menyesuaikan diri dengan kecepatan tersebut, karena diplomasi sekarang juga berlangsung di internet," ujarnya.

Rodrigues-Birkett juga mendorong penyusunan prinsip-prinsip internasional untuk mengatur AI yang memungkinkan teknologi baru terus berkembang dengan tetap mempertimbangkan berbagai risiko yang menyertainya.

Ia mengatakan AI dapat memberikan berbagai manfaat, tetapi perkembangannya juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait dampaknya terhadap lapangan kerja dan kreativitas.

Rodrigues-Birkett saat ini memimpin persaingan untuk posisi Sekjen PBB berikutnya. Dalam pemungutan suara informal kedua oleh anggota Dewan Keamanan PBB, pencalonannya mendapat dukungan delapan dari 15 negara, lebih banyak dibandingkan kandidat lainnya.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan