Bagi ASDP, konektivitas bukan hanya persoalan memindahkan penumpang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Di dalamnya terdapat pergerakan barang, aktivitas ekonomi, pelayanan publik, hingga peluang pengembangan wilayah.
ASDP Regional 4 mencata perusahaan tersebut juga tengah melihat peluang memperluas bisnis melalui pengembangan konektivitas dan logistik, termasuk kemungkinan membuka koneksi menuju Surabaya, Jawa Timur.
Rencana pengembangan ke logistik itu karena selain melihat permintaan, juga melihat data produksi, sehingga proses bisnis perusahaan tersebut bisa berkembang.
Pengembangan konektivitas tersebut, sekaligus membuka peluang bagi transportasi laut untuk mendukung sektor pariwisata di wilayah kepulauan.
Sejumlah wilayah kepulauan di Sulsel hingga kawasan Indonesia Timur memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan apabila didukung transportasi laut yang aman dan teratur.
Sebagai gambaran, Pelabuhan Bajoe, kini dirintis menjadi tujuan wisata sebagai bagian dari upaya meningkatkan peran pelayanan publik.
Bahkan, untuk mendukung sektor pariwisata, ASDP dan Universitas Hasanuddin di Makassar sedang menjajaki produksi perahu tradisional Phinisi yang akan didampingi dalam proses pembuatannya, agar dapat mengikuti standar kapal pada umumnya untuk menjaga keamanan penumpang.
Bupati Pangkajene dan Kepulauan Muhammad Yusran Lalogau mengatakan, perjalanan dengan kapal mungkin hanya bagian dari aktivitas bepergian. Namun bagi masyarakat pulau, keberadaan kapal menentukan seberapa mudah mereka mengakses kehidupan di luar pulau.
Apalagi dari 24 kabupaten/kota di Sulsel, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan adalah daerah yang paling banyak pulaunya, yakni 117 pulau yang tersebar di Selat Makassar, hingga provinsi tetangga, yakni Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Katena itu wajar jika setiap perjalanan membawa cerita yang berbeda. Ada guru yang mengejar waktu untuk mengajar. Ada ASN yang menuju kantor. Ada pedagang yang membawa barang. Ada warga yang hendak berbelanja atau mengurus kebutuhan administrasi.
Semua bertemu di satu titik: kapal yang membawa mereka melintasi laut.
Meskipun laut tetap menjadi pemisah secara geografis, namun dengan konektivitas yang tersedia, jarak tidak lagi harus menjadi penghalang bagi warga untuk bekerja, belajar, berdagang, dan memperoleh pelayanan.
Di situlah kapal perintis memainkan perannya: menjadi jembatan yang membuat pulau-pulau tetap terhubung dengan kehidupan di daratan.