Rasa aman tersebut menjadi penting bagi warga yang tidak memiliki pilihan untuk menghentikan mobilitasnya terlalu lama. Guru tetap harus mengajar, pedagang harus berjualan, dan pelayanan pemerintahan harus berjalan.
Sejak kapal perintis hadir, aktivitas warga Sabutung menjadi lebih lancar.
Kisah Haedar menggambarkan wajah lain dari konektivitas antarpulau. Di atas peta, sebuah rute penyeberangan mungkin hanya terlihat sebagai garis yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya.
Bagi warga pulau, garis itu berarti akses menuju sekolah, kantor pemerintahan, pasar, rumah sakit, hingga pusat perekonomian.
Peran tersebut menjadi bagian dari perhatian PT ASDP Indonesia Ferry Regional 4 dalam memperkuat konektivitas kawasan Indonesia Timur.
Executive Director ASDP Regional 4 Imran Kuru mengatakan konektivitas menjadi salah satu fokus perusahaan karena wilayah kerja Regional 4 mencakup wilayah yang luas, mulai dari Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Di Regional 4 ini ada 10 cabang, yakni lima cabang di Sulawesi, dua cabang di Maluku, dan tiga cabang di Papua. Karena itu, perusahaan milik negara tersebut fokus pada penguatan lintasan-lintasan yang bisa meningkatkan konektivitas di wilayah tersebut.
Di Sulsel, salah satu gambaran penting konektivitas itu terlihat pada lintasan Maccini Baji-Pulau Sabutung, Pangkep, atau lintasan Demaga Bajoe, Sulsel-Dermaga Kolaka, Sultra.
Kapal perintis di lintasan tersebut menjadi pilihan masyarakat kepulauan untuk menghubungkan aktivitas mereka dengan daratan. Mobilitas tidak lagi semata-mata bergantung pada kapal kayu atau perahu nelayan.
Konektivitas itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pelayanan publik di wilayah kepulauan. Guru, seperti Haedar, dapat menjalankan tugas mengajar, sementara ASN dapat tetap menjalankan pekerjaan pemerintahan yang membutuhkan perjalanan lintas pulau.
Bagi pedagang, kapal juga menjadi jalur untuk membawa barang yang nota bene membantu roda ekonomi tetap berjalan. Sementara bagi keluarga, kapal menjadi akses untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi masyarakat umum, kapal menjadi sarana untuk mencapai pusat pelayanan yang berada di daratan.
Peran transportasi penyeberangan dalam menghubungkan masyarakat kepulauan juga terlihat di Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone, Sulsel, ke provinsi tetangga, yakni Pelabuhan Kolaka, Sultra.
ASDP mencatat sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026, Pelabuhan Bajoe melayani lebih dari 28 ribu penumpang dan sekitar 56 ribu kendaraan.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya mobilitas masyarakat yang bergantung pada transportasi penyeberangan untuk menghubungkan dua provinsi di Sulawesi.