"Hujan abu tidak bisa ditentukan lewat tanggal di kalender," kata Daryono.

Erupsi hanya akan benar-benar berhenti jika suplai magma segar terhenti dan tekanan di dalam dapur magma mulai stabil. Selama proses pengiriman magma dari kedalaman bumi masih berlangsung, maka potensi letusan susulan tetap terbuka dengan intensitas yang fluktuatif.

"Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun. Kadang tenang, kadang membesar," ungkapnya.

Kondisi jeda atau penurunan intensitas abu bukan berarti erupsi telah usai. Fase akhir sebuah erupsi biasanya ditandai dengan melemahnya dorongan dari dalam bumi yang menyebabkan magma di saluran utama mendingin dan mengeras.

"Tanpa dorongan kuat, cairan magma di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya," jelas Daryono.

Meski sulit diprediksi secara presisi, para ahli vulkanologi tetap memantau sejumlah indikator teknis untuk melihat tanda-tanda pelemahan aktivitas. Beberapa parameter yang dipantau meliputi penurunan frekuensi gempa dalam, penurunan emisi gas, serta deflasi atau penyusutan tubuh gunung.

"Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yg mulai menyusut (deflasi)," paparnya.