Daryono menekankan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu menghitung volume sisa magma di dalam bumi secara akurat karena kompleksitas sistem alam di bawah permukaan.

"Perut bumi berada puluhan kilometer di bawah tanah dan merupakan sistem alam yang sangat rumit. Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam bumi secara persis," katanya.

Oleh karena itu, fokus utama para ahli adalah membaca pola aktivitas gunung api daripada sekadar menebak tanggal berakhirnya erupsi.

"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola," tegas Daryono.

Melalui pemantauan deformasi dan aktivitas seismik secara konsisten, tim ahli dapat menyimpulkan kapan sebuah gunung api mulai memasuki fase akhir letusannya.

"Dengan memantau penurunan gempa dan kondisi badan gunung secara terus menerus, para ahli dapat mengetahui gunung tersebut mulai lelah dan bergerak menuju akhir fase letusannya," pungkasnya.