"Misalnya mau menanam tebu, kan dibabat dulu, terus dibakar," jelasnya.

Kebakaran lahan tebu tersebut, lanjutnya, tersebar di sejumlah daerah di Jateng secara merata. Mulai dari Blora hingga Pemalang.

"Yang kebakaran lahan tebu hampir semua. Blora, Pati, Grobogan, Sragen, Wonogiri juga lumayan banyak. Klaten, hutannya sedikit tapi lumayan, berarti yang terbakar hutan rakyat. Terus sisi selatan ada Pemalang, Kendal, Kabupaten Semarang," urainya.

Selain itu, Soegiharto menyebut, sebagian besar karhutla di Jateng diduga dipicu aktivitas manusia. Namun, dia mengatakan tidak semua kebakaran dilakukan dengan sengaja.kemudian ditinggalkan.

"Beberapa yang tidak sengaja. Misalnya membakar di bagian pinggir, terus ditinggal, lupa, terus merembet ke mana-mana," ujarnya.

Kondisi cuaca yang kering juga disebut membuat api lebih mudah menyebar. Soegiharto mengatakan, faktor El Nino turut memperparah terjadinya karhutla di Jateng.