Setelah menjalani perjalanan sekitar lima jam melalui jalur darat dan air, kedua orang utan tersebut kemudian dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Lokasi dipilih karena dinilai aman serta memiliki hutan dan sumber pakan yang memadai.

"Mama Yayuk dan Yayuk menjadi penyelamatan orang utan ketiga di Ketapang selama Agustus 2026," kata dia.

Sebelumnya, pada 6 Agustus, tim mengevakuasi orang utan jantan bernama Wak yang masuk ke kebun buah warga di Desa Kuala Tolak. Wak kemudian dipindahkan ke kawasan hutan yang aman dalam konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha).

Kemudian pada 21 Agustus, tim kembali mengevakuasi tiga orang utan, yakni Mama Yuni, Pura, dan Yuni, dari kebun warga di Desa Tanjungpura. Ketiganya dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Palung.

Silverius mengatakan, enam orang utan telah diselamatkan dalam tiga pekan. Menurutnya, evakuasi diperlukan untuk melindungi orang utan sekaligus masyarakat. Namun, pencegahan karhutla dan perlindungan habitat tetap menjadi solusi utama.

"Enam orangutan diselamatkan dalam tiga pekan. Ini peringatan serius. Kebakaran membuat orang utan kehilangan makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan," kata Silverius.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan pihaknya saat ini dalam kondisi siaga menghadapi karhutla sekaligus penyelamatan satwa liar. Setiap laporan masyarakat mengenai satwa liar yang membutuhkan evakuasi akan ditindaklanjuti.