"Bahkan seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia," ujar Karmele.
Pemeriksaan dokter hewan dan hasil laboratorium setelah Mama Penja tiba di klinik juga menunjukkan dia mengalami anemia berat. Karmele mengaku tim hampir tidak percaya Mama Penja masih mampu bertahan hidup dengan kondisi tubuh seperti itu.
"Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat," kata dia.
Menurut Karmele, kebakaran yang berlangsung di habitat Mama Penja membuat akses terhadap makanan semakin terbatas. Kondisi itu diduga berlangsung dalam waktu cukup lama hingga akhirnya berdampak serius terhadap kesehatan orang utan tersebut.
Kini, Mama Penja masih menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi YIARI. Tim medis berfokus menstabilkan kondisinya, memberikan nutrisi, serta merawat luka-luka yang dialaminya.
"Kami masih berharap ia dapat bertahan hidup. Semoga keduanya masih memiliki kesempatan untuk pulih dan suatu hari nanti kembali hidup di alam," ujar Karmele.