Di sisi lain, upaya pemadaman masih menghadapi berbagai kendala. Petugas kesulitan mendapatkan air, sementara titik api berada jauh di dalam kawasan dan tidak memiliki akses jalan.

"Kesulitan air. Terus titik apinya sulit dijangkau, jauh sekali," ujarnya.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pihak Balai TNBS berupaya membuat embung dengan bantuan alat berat serta mengalirkan air dari sungai ke lokasi kebakaran.

Kebakaran berlangsung sejak 9 Agustus 2026. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 1.000 hektare, tetapi angka tersebut belum dipastikan melalui pengukuran resmi.

Saat ini, upaya pemadaman terus dilakukan dengan bantuan BPBD dan TNI agar api tidak meluas dan menjangkau kawasan hutan primer yang menjadi habitat harimau Sumatera.