Dia mengatakan penutupan klub berkaitan dengan adanya pihak lain yang mengklaim lokasi usaha itu sebagai miliknya.

“Ada yang mengakui tempat itu sebagai miliknya, padahal sudah 21 tahun sertifikat,” jelas Venny.

Menurut Venny, kondisi tersebut kini tidak hanya menyangkut keberlangsungan tempat usaha, tetapi juga nasib 200 orang pekerja dan keluarga mereka.

Untuk itu, lanjut Venny, kedatangan para karyawan ke Balai Kota dilakukan karena mereka mengaku belum mendapatkan penyelesaian dari pemerintah daerah setempat.

Venny mengatakan pihaknya ingin persoalan tersebut mendapat perhatian dari dinas terkait serta aparat yang memiliki kewenangan.