"Setelah saya pakai baju, pas balik itu dia sudah berdiri dengan telanjang. Dia kemudian mengancam saya kalau bilang-bilang keluarga saya bakal dihabisi sama tukang pukul, gaji gak dikeluarkan, dan anak-anak resto dibuat sengsara," kata dia.

Korban lalu dipaksa menerima sejumlah uang yakni Rp 500 ribu dan diancam. Saat itu pelaku mengancam keluarga korban akan dihabisi oleh tukang pukul.

Akhirnya korban terpaksa menerima uang tersebut dan pulang ke kosnya. Sedangkan pelaku kembali ke restoran dengan berjalan kaki.

Usai kejadian itu, korban menjadi sering dipanggil ke ruangan pelaku saat di resto. Korban sendiri bekerja sebagai sekretaris restoran tersebut.

"Di dalam ruangan itu ada satu bilik kamar, di situ (sering terjadi pelecehan). Dengan ancaman yang sama. Saya takut. Lalu pada 21 Mei 2026, dia kembali mengancam saya dengan ancaman yang sama, agar mau tinggal di rumahnya. Waktu itu dia bilang kalau di sana ada ART-nya," ungkap dia.

Korban lantas menuruti kemauan pelaku karena ketakutan. Usai restoran tutup, pelaku menjemput korban untuk diajak ke rumahnya yang berada di kawasan Wiyung. Di sana pemerkosaan itu kembali terulang.

"Modusnya sama, memberi saya banyak minuman beralkohol. Saya ketakutan. Takut keluarga saya dibunuh atau saya yang dibunuh. Karena beberapa kali itu saya ngerasa ada orang yang mengikuti saya. Saya menuruti dia karena di bawah tekanan ancaman," terangnya.

Kekerasan seksual itu terjadi berulang hingga 21 Mei 2026. Awalnya, pelaku biasanya mencekoki korban dengan miras.

"Saya sempat agak lega pada 21 Mei sampai 2 Juni pelaku meninggalkan Indonesia dan pergi ke Korea. Waktu dia di Korea, kalau saya belum pulang itu langsung di chat ditanya dimana. Kalau gak cepet pulang keluarga saya mau dikirimi tukang pukul," ceritanya.

Sekitar 2 Juni hingga 24 Juli, pelaku kembali ke Indonesia. Dari sana, kekerasan seksual kembali terjadi berulang.

Korban saat itu bisa saja kabur, namun ia ketakutan dengan ancaman yang dilontarkan pelaku. Tak hanya itu, korban pun takut nasib rekan-rekan kerjanya. Ada kekhawatiran gaji para pegawai tidak dikeluarkan, sampai pemecatan.