NADIKABAR.COM — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussel meminta seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Belgia untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul aksi demonstrasi yang meluas menjadi kekerasan.
"Menyikapi perkembangan situasi terkini, termasuk demonstrasi di sejumlah wilayah di Belgia, KBRI di Brussel kembali mengimbau seluruh WNI di Belgia untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan keselamatan diri," menurut pernyataan KBRI di Belgia di laman Instagram seperti dipantau Antara di Jakarta, Senin.
Kedutaan mengingatkan agar WNI menghindari lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi titik demonstrasi, serta terus memantau informasi resmi dari otoritas Belgia terkait situasi keamanan dan gangguan layanan publik.
Bagi warga yang masih harus beraktivitas dan menggunakan transportasi umum, diimbau untuk memastikan jadwal serta ketersediaan layanan kereta, metro, trem, dan bus sebelum melakukan perjalanan.
"Sesuaikan rencana perjalanan dan siapkan waktu tambahan, terutama untuk penerbangan atau perjalanan penting," kata KBRI di Brussel.
Kedutaan juga mengimbau agar WNI di Belgia untuk mengikuti arahan aparat keamanan setempat, menjauh dari aksi demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban, serta menjaga komunikasi dengan keluarga dan memastikan telepon seluler selalu aktif.
KBRI turut meminta seluruh WNI untuk tetap waspada dan segera menghubungi hotline KBRI di Brussel melalui nomor +32 478 95 7214 jika memerlukan bantuan dalam kondisi darurat.
"KBRI di Brussel mengimbau seluruh WNI untuk tetap tenang, waspada, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi," kata kantor kedutaan.
Aksi protes bermula di Prancis, yang diikuti oleh para siswa SMA dan mahasiswa, terkait kondisi pendidikan di negara itu.
Demonstrasi itu lalu meluas ke wilayah Belgia, yang penduduknya berbahasa Prancis. Demonstrasi sebelumnya juga berujung pada sejumlah penahanan, dengan beberapa tersangka kemudian ditahan dalam proses hukum.
Polisi Belgia menangkap 195 orang dalam demonstrasi menentang kebijakan pendidikan dan pemangkasan anggaran di Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10), menurut pernyataan kepolisian setempat.
Penangkapan yudisial itu berkaitan dengan sejumlah pelanggaran, termasuk pelemparan benda ke arah petugas, perlawanan saat penangkapan, dan pembakaran yang disengaja.