"Saya nanya, siap modal kawin di mana? Dijawab, pinjem di bank Rp25 juta. Bayangin. Nyicil rumah kapan? Dijawab 'nyak rumah isukan.' Anaknya yang kawin, anaknya yang bahagia, besok bapaknya yang menderita," tutur KDM.

Menurutnya, rantai utang itu akan terus berlanjut dengan kehamilan istri yang membutuhkan biaya untuk menjaga kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan.

Dalam hal ini, KDM kembali mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan yang tidak bijak dapat membuat situasi makin sulit karena jeratan utang.

"Untuk itu ibu-ibu, bapak-bapak, cerdaslah dalam melakukan keuangan. Tinggalkan tradisi kajen tekor asal kasohor," ujar KDM.