NADIKABAR.COM — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menargetkan pemadaman total kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, rampung dalam rentang waktu dua hari.
Hal ini, diungkapkan Dedi di Gedung Pakuan Bandung, Jumat, dengan optimistis, setelah dipastikannya penanganan darurat dengan pengerahan helikopter untuk "water bombing", serta pengerahan 500 personel pembersih kanal alami.
Kepastian penanganan darurat udara tersebut direalisasikan melalui dukungan armada helikopter dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI Angkatan Udara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menerobos sulitnya jangkauan medan menuju puncak gunung serta keterbatasan sumber air di titik api.
Dedi juga menyebut luas area terdampak kebakaran di Gunung Ciremai yang tercatat seluas 30 hektare, bukan seperti informasi sebelumnya yang menyebutkan angka mencapai 60 hektare, dan kini tinggal 20 persen.
"Luas lahan yang terbakar mencapai 30 hektare, bukan 60 hektare. Setelah pemadaman sehari sebelumnya, titik api yang tersisa diperkirakan tinggal 20 persen, itu pun pada titik-titik api yang tidak terlalu rawan," ujar Dedi Mulyadi.
Mantan Bupati Purwakarta tersebut menerangkan bahwa intervensi water bombing dari udara merupakan pilihan tunggal mengingat aksesibilitas fisik personel darat menuju puncak Ciremai sangat berisiko.
"Kalau manual, naik ke gunungnya bagaimana? Kemudian di puncaknya memadamkan api pakai apa? Sumber airnya kan tidak ada. Andai kata pun punya alat, berapa orang yang punya kemampuan naik ke puncak gunung?," kata Dedi.
Secara paralel, Pemprov Jabar juga menerjunkan 500 personel gabungan untuk memikul tugas membebaskan sirkulasi kanal alami di lereng gunung dari tumpukan sampah, batangan bambu, dan kayu kering.
Langkah ini dirancang agar sewaktu curah hujan turun, aliran air kanal otomatis berfungsi sebagai sekat bakar alamiah (firebreak) guna membendung perambatan api ke zona vegetasi lainnya.
"Sampah-sampahnya diangkat sehingga nanti kalau ada air turun, kanal itu bisa berfungsi dan membantu mencegah api menyeberang," ucapnya.
Terkait pemicu awal timbulnya kobaran api, Dedi menduga adanya aktivitas pembakaran ilalang secara tidak bertanggung jawab oleh oknum warga untuk pembukaan lahan pertanian jelang datangnya musim tanam.
"Mungkin ada yang bakar ilalang karena mau menjelang November. Petani biasanya suka mulai menanam," tutur Dedi.
Dedi menegaskan penanganan karhutla ini telah dilaporkan dan berkoordinasi langsung dengan pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara serta Sekretaris Kabinet.
"Saya minta arahan karena ada kebakaran di Ciremai. Pak Mensesneg meminta agar Ciremai ditangani. Saya juga lapor ke Pak Seskab," ujarnya.
Di samping fokus memadamkan api, Dedi secara mendadak membongkar praktik kejahatan lingkungan lainnya berupa dugaan pencurian kayu sonokeling di kawasan konservasi TNGC, serta menyiapkan imbalan uang tunai Rp10 juta bagi warga yang berani membeberkan identitas para pelaku.
"Siapa yang bisa nanti menyampaikan informasi para pencuri sonokeling, saya kasih hadiah 10 juta," tutur Dedi.