"Saya mulai merasakan turbulensi, tetapi tidak ada yang bereaksi berlebihan, jadi saya berkata pada diri sendiri bahwa hal itu pasti wajar," ujar Bahia Bakari.
Bahia bertahan di dalam air selama 12 jam dengan memegang puing-puing pesawat. Ia sempat mendengar suara-suara berteriak minta tolong dalam bahasa Komoro dan berusaha membalas, tetapi tidak dapat melihat siapa pun.
Dia akhirnya bisa bertahan dan akhirnya dievakuasi. Ia baru mengetahui bahwa dirinya adalah satu-satunya korban selamat setelah diberitahu oleh psikolog rumah sakit, ia kehilangan ibunya.
Dari sidang ini, tim penyelidik tidak menemukan kerusakan teknis pada pesawat dan menyimpulkan kecelakaan disebabkan oleh tindakan lalai dari awak pesawat saat pendaratan yang mengakibatkan hilangnya kendali.