"Kami merasa tidak nyaman mandi di tempat terbuka di antara orang asing dan penduduk setempat yang tidak kami kenal," katanya kepada DW. "Banyak anak-anak yang menyaksikan anggota keluarga, teman, dan tetangga mereka tersapu banjir," ujarnya, sambil mengemukakan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap kesehatan mental dan pendidikan mereka.

Save the Children Nepal telah memperingatkan bahwa langkah-langkah perlindungan bagi anak-anak dan keluarga mereka harus diperkuat di seluruh wilayah yang terdampak banjir di tengah kekhawatiran akan perdagangan manusia, kekerasan, eksploitasi, dan pernikahan anak.

Banyak keluarga telah pindah ke kamar sewaan. Namun, ratusan lainnya masih tinggal di tempat penampungan sementara dan tenda darurat di distrik Nuwakot dan Dhading.

Save the Children Nepal mengungkap kekhawatiran mengenai privasi dan keamanan bagi anak perempuan dan perempuan karena orang-orang yang tidak dikenal memiliki akses tak terbatas ke ruang-ruang bersama.

Ayush Joshi, direktur bidang advokasi, kampanye, komunikasi, dan media di Save the Children Nepal, mengatakan kepada DW bahwa laporan yang mereka buat didasarkan pada penilaian kualitatif yang melibatkan orang-orang yang terdampak, termasuk perempuan dan anak-anak, serta relawan yang ditugaskan di daerah-daerah yang dilanda banjir.

"Banyak tempat penampungan sementara dibangun tanpa perencanaan. Kamp-kamp di pinggiran kota memiliki penerangan yang tidak memadai pada malam hari serta kurangnya kamar mandi terpisah dan ruang pribadi," kata Joshi kepada DW, menggaris bawahi adanya akses tak terbatas bagi orang-orang yang tidak dikenal. "Situasi seperti itu meningkatkan risiko ketidakamanan, potensi pelecehan, dan eksploitasi, terutama bagi remaja perempuan dan anak-anak," tegasnya.

Joshi mengatakan, pasca bencana, banyak orang terpisah dari keluarga mereka, banyak yang kehilangan keluarga mereka, kakak-kakak yang lebih tua terpaksa menjadi pengasuh bagi adik-adik mereka.

"Dalam keadaan seperti ini, kasus putus sekolah dan pernikahan anak bisa meningkat," tambahnya, merujuk pada penilaian lapangan Save the Children.

"Kami telah melihat banyak anak yang menghadapi masalah kesehatan mental, seperti menjadi marah, ketakutan, dan menangis keras. Mereka memerlukan pemulihan sosial-emosional."