Menurut Jefri, upaya pemadaman menghadapi kendala berupa berkurangnya debit air dari sejumlah sumber mata air di Malaumkarta. Warga harus mengambil air dari penampungan yang lokasinya cukup jauh, sedangkan kondisi panas dan angin kering membuat api lebih cepat menjalar.
Api bahkan membakar sejumlah pohon sagu yang berada sekitar 50 meter dari kawasan hutan lindung dan hutan yang dianggap keramat oleh masyarakat adat. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran warga terhadap potensi meluasnya kebakaran.
Kebakaran kali ini menambah rangkaian kejadian serupa di wilayah Malaumkarta Raya. Pada 31 Agustus, kebakaran melanda Gunung Malaumkarta atau Puncak Suatut dengan radius sekitar empat kilometer dan baru berhasil dipadamkan warga tiga hari kemudian.
Kemudian pada 19 September, kebakaran kembali terjadi di kawasan hutan Kampung Mibi dengan radius sekitar satu kilometer.