β€œKarena cuaca panas sehingga debit airnya berkurang, tapi masyarakat bersama pemuda dan anak-anak sekolah terlibat semua dalam pemadaman kebakaran hutan,” ujar Jefri.

Selain meningkatkan risiko kebakaran, berkurangnya sumber air mulai berdampak terhadap kebun masyarakat. Tanaman hortikultura yang menjadi sumber pangan dan penghasilan warga mulai layu akibat terbatasnya pasokan air.

Untuk mendukung penanganan, Yayasan EcoNusa berkoordinasi dengan pemerintah kampung menyalurkan tiga pompa air alkon, satu tandon berkapasitas 1.100 liter, selang pemadam sepanjang 300 meter, 10 alat semprot gendong, sepatu bot, dan senter kepala.

Jefri berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi panas dan kering. β€œJang sampai kejadian tahun 1986 terulang lagi,” katanya.