NADIKABAR.COM β Kebakaran kembali melanda kawasan hutan dan lahan di Kampung Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, dengan luas area terdampak sekitar dua hektare.
Kebakaran terjadi pada Senin (21/9) sekitar pukul 15.00 WIT dan baru berhasil dipadamkan warga pada Selasa sekitar pukul 03.00 WIT. Warga masih melakukan pemantauan dan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali bara api.
Kepala Kampung Malaumkarta Jefri Mobalen mengatakan kebakaran tersebut merupakan kejadian kedua di lokasi yang sama setelah sebelumnya terjadi pada Agustus.
βIni kali kedua kebakaran di lokasi yang sama. Kebakaran pertama di bulan Agustus kemarin. Bagaimana api muncul juga kami tidak tahu, tiba-tiba saja api sudah merambat,β kata Jefri dalam siaran pers pada Selasa.
Menurut Jefri, upaya pemadaman menghadapi kendala berupa berkurangnya debit air dari sejumlah sumber mata air di Malaumkarta. Warga harus mengambil air dari penampungan yang lokasinya cukup jauh, sedangkan kondisi panas dan angin kering membuat api lebih cepat menjalar.
Api bahkan membakar sejumlah pohon sagu yang berada sekitar 50 meter dari kawasan hutan lindung dan hutan yang dianggap keramat oleh masyarakat adat. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran warga terhadap potensi meluasnya kebakaran.
Kebakaran kali ini menambah rangkaian kejadian serupa di wilayah Malaumkarta Raya. Pada 31 Agustus, kebakaran melanda Gunung Malaumkarta atau Puncak Suatut dengan radius sekitar empat kilometer dan baru berhasil dipadamkan warga tiga hari kemudian.
Kemudian pada 19 September, kebakaran kembali terjadi di kawasan hutan Kampung Mibi dengan radius sekitar satu kilometer.
βKarena cuaca panas sehingga debit airnya berkurang, tapi masyarakat bersama pemuda dan anak-anak sekolah terlibat semua dalam pemadaman kebakaran hutan,β ujar Jefri.
Selain meningkatkan risiko kebakaran, berkurangnya sumber air mulai berdampak terhadap kebun masyarakat. Tanaman hortikultura yang menjadi sumber pangan dan penghasilan warga mulai layu akibat terbatasnya pasokan air.
Untuk mendukung penanganan, Yayasan EcoNusa berkoordinasi dengan pemerintah kampung menyalurkan tiga pompa air alkon, satu tandon berkapasitas 1.100 liter, selang pemadam sepanjang 300 meter, 10 alat semprot gendong, sepatu bot, dan senter kepala.
Jefri berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi panas dan kering. βJang sampai kejadian tahun 1986 terulang lagi,β katanya.