Tersenyum juga dapat memengaruhi zat kimia di otak yang berkaitan dengan perasaan positif, termasuk endorfin, dopamin, dan serotonin.
βOrang-orang yang tersenyum saat melakukan tugas yang memicu stres umumnya menunjukkan detak jantung yang lebih rendah selama masa pemulihan dibandingkan mereka yang mempertahankan ekspresi wajah netral. Tersenyum juga mengurangi beberapa aspek respons stres fisiologis tubuh,β kata Ho.
Harapannya, jika seseorang cukup sering tersenyum, akan mulai merasakan dampak positifnya secara emosional.
βDalam beberapa hal itu seperti efek mediasi," tambah dia.
Namun, memaksakan senyuman justru bisa memicu ketidaknyamanan. Bagi sebagian orang, tuntutan untuk tersenyum dapat menjadi situasi yang serba salah. Mereka berisiko dianggap tidak ramah atau bersikap dingin jika tidak cukup sering tersenyum.