Para analis mengaitkan kebuntuan yang berkepanjangan di Gaza dengan perselisihan yang tidak terselesaikan antara Israel dan Hamas.Akram Attaallah, seorang analis politik asal Gaza, menjelaskan bahwa Israel bersikeras agar Hamas melucuti seluruh senjatanya sebelum penarikan pasukan secara menyeluruh dilakukan, sementara Hamas menuntut diakhirinya operasi militer Israel dan penarikan total pasukan Israel sebelum membahas masalah persenjataan."Israel dan Hamas memandang masalah ini sebagai situasi yang sepenuhnya menang-kalah. Hamas ingin tetap bertahan, sementara Israel ingin melenyapkan segala bentuk kehadiran Hamas di Jalur Gaza," ujarnya. "Di antara kedua posisi inilah, krisis terus berlanjut."Adel al-Ghurairi, profesor Universitas Baghdad, mengatakan bahwa kerangka kerja yang diusulkan AS, termasuk apa yang disebut sebagai "Dewan Perdamaian", pasukan stabilisasi, dan komite transisi, sebagian besar masih sebatas wacana di atas kertas, sementara pelucutan senjata dan penarikan pasukan Israel masih tertunda."Elemen-elemen utama peta jalan tersebut, yakni pelucutan senjata, penarikan mundur Israel, serta pihak yang memegang kendali pemerintahan selama masa transisi, semuanya masih belum tuntas," ujarnya.Di balik layar, AS memainkan peran yang sangat kontradiktif, ungkap para pengamat kepada Xinhua.Ali Al Hail, profesor ilmu politik di Universitas Qatar, mengatakan bahwa peran Washington sebagai mediator utama tergerus oleh bantuan militer dan dukungan diplomatiknya terhadap Israel, yang menimbulkan pertanyaan mengenai kenetralannya dan memungkinkan konflik terus berlanjut."AS memainkan peran ganda: negara itu tetap menjadi sekutu strategis utama Israel sekaligus menjadi aktor penting dalam upaya diplomatik," ujarnya. "Posisi ganda ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa efektif negara tersebut dapat bertindak sebagai penengah yang dapat diterima oleh semua pihak," imbuhnya.Al-Ghurairi menambahkan bahwa AS menginginkan perang berakhir, namun belum menunjukkan tekad untuk benar-benar mewujudkan hasil tersebut. "Absennya mekanisme multilateral yang nyata, serta ketergantungan pada hegemoni sepihak AS membuat penyelesaian apa pun menjadi rapuh," ujarnya.
Di seluruh kawasan, para analis memandang konflik tersebut telah mengubah lanskap geopolitik secara signifikan.Mohamed Amin, analis politik Sudan, menyebut dampak konflik yang meluas ke kawasan telah terasa hingga di Laut Merah, tempat kelompok Houthi Yaman menyerang kapal-kapal sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina."Hal ini telah menjadikan sebagian dampak perang di Gaza sebagai persoalan yang menyangkut keamanan pelayaran dan perdagangan internasional," katanya.Keseimbangan kekuatan antara aliansi AS-Israel dan poros perlawanan yang dipimpin Iran, termasuk Hamas, Houthi, dan Hizbullah Lebanon, telah bergeser, tambah Al Huwaihi."Israel meyakini bahwa setelah apa yang dianggapnya sebagai keberhasilan di Gaza, konfrontasi perlu diarahkan ke Iran sebagai negara utama yang mendukung kelompok-kelompok tersebut," katanya. "Israel kemudian berhasil meyakinkan presiden AS untuk melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari."Di tengah kompleksitas tersebut, pandangan yang umum berlaku adalah perdamaian sejati dan abadi tetap mustahil dicapai tanpa penerapan penuh solusi dua negara dan pemulihan hak-hak sah Palestina.Youssef Diab, analis politik Lebanon, mengatakan bahwa isu Palestina kemungkinan akan tetap menjadi konflik sentral yang turut membentuk dinamika kawasan."Pilihannya adalah perdamaian bagi rakyat Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina yang berdaulat dengan otoritas yang nyata, atau ketidakstabilan dan kekacauan yang terus berlanjut," ujar Diab."Stabilitas kawasan juga akan bergantung pada kemampuan negara-negara regional dan kekuatan internasional untuk meredam ketegangan yang saling terkait di Iran, Yaman, Laut Merah, dan kawasan Teluk, serta membangun tatanan keamanan dan politik yang lebih luas," tambah Amin.