Ada pula sisa Lena horse, bison stepa purba, serta jejak hewan seperti singa gua dan serigala. Potongan kayu yang ditemukan di sedimen juga menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki hutan cemara dan pinus, berbeda jauh dengan kondisi vegetasi Siberia sekarang.

Penelitian DNA purba di sedimen Batagay juga menunjukkan betapa kaya informasi yang tersimpan di dalam permafrost. Analisis genetik dapat mengungkap keberadaan tumbuhan, hewan, mikroorganisme, hingga perubahan ekosistem selama periode Pleistosen.

Karena itu, Batagaika bukan sekadar lubang besar. Bagi ilmuwan, setiap meter lapisan yang terbuka seperti halaman baru dari buku sejarah Bumi. Masalahnya, 'buku' itu sedang terbuka karena tanahnya mencair.

Batagaika mulai berkembang secara signifikan beberapa dekade lalu. Ketika suhu meningkat dan kondisi hutan berubah, tanah beku di kawasan tersebut semakin tidak stabil. Menurut European Space Agency (ESA), Batagaika kini memiliki panjang sekitar 1 kilometer, kedalaman sekitar 100 meter, dan terus melebar dengan kecepatan sekitar 30 meter per tahun.

Karena itulah menghentikan proses pada struktur sebesar Batagaika bukan perkara mudah. Dari udara, bentuknya bahkan terlihat seperti kecebong atau ikan pari. Namun, bentuk unik tersebut menyembunyikan persoalan yang lebih serius.